Category Archives: Kepemimpinan

Karakter Entrepreneur

Jika ingin menjadi seorang Entrepreneur, setidaknya harus memiliki Karakter Entrepreneur. Nah, di bawah ini ada beberapa Karakter Entrepreneur, mudah-mudahan ini dapat bermanfaat untuk teman-teman yang ingin menjadi seorang Entrepreneur Sejati.
1. Percaya Diri
Kepercayaan diri merupakan modal pertama yang harus dimiliki seorang Entrepreneur, karena kepercayaan diri sangat dibutuhkan dalam pengambilan keputusan. Dengan cara selalu berani mengambil keputusan besar dan kecil, maka secara otomatis nantinya akan memupuk rasa percaya diri, dan jangan sekali-kali terlalu sering berkata tidak, tunggu dulu atau terlalu sering berunding dalam setiap mengambil keputusan, karena itu merupakan ciri pemimpin yang lemah.

2. Optimis
Seorang Entrepreneur itu mereka akan selalu optimis dalam setiap langkah yang diambilnya. Sikap optimis ini akan muncul dalam diri setiap individu ketika dalam diri setiap individu memiliki harapan yang besar untuk dicapai.

3. Berani mengambil Resiko
Selain harus memiliki rasa percaya diri dalam mengambil keputusan, seorang Entrepreneur juga harus berani mengambil resiko dalam mengambil keputusan, karena setiap langkah atau keputusan yang diambil pasti akan ada resikonya. Untuk menumbuhkan sikap berani mengambil Resiko ini adalah dengan cara selalu percaya diri dan optimis terhadap setiap keputusan yang diambil.

4. Memiliki Rasa Tanggungjawab yang Tinggi
Seorang Entrepreneur dalam menyelesaikan pekerjaannya selalu dengan sepenuh hati dan bertanggungjawab. Dengan selalu bertanggungjawab dalam setiap pekerjaan, itu akan dapat memberikan mental positif kepada setiap individu yang dipimpinnya.

5. Pandai Menganalisis Peluang
Seorang Entrepreneur harus pandai menganalisis setiap peluang yang ada di depannya, apakah peluang itu dapat menguntungkan bagi usaha yang dijalani atau malah akan merugikan. Keahlian menganalisis peluang akan muncul pada diri setiap individu, jika dalam setiap individu memiliki wawasan yang luas dalam berpikir, wawasan luas sendiri didapatkan dari pengalaman-pengalaman yang pernah dijalani.

6. Pandai Memecahkan Masalah
Ketika seorang Entrepreneur menjalankan usahanya, tidak menutup kemungkinan pasti akan menemui kendala atau masalah-masalah yang terjadi, untuk itu seorang Entrepreneur harus berwawasan luas, sehingga dapat pandai dalam memecahkan masalah yang terjadi, sehingga dapat menemukan solusi yang terbaik.

7. Mampu Berkomunikasi dan Bersosialisasi
Dalam mengembangkan usahanya Seorang Entrepreneur akan tidak lepas dari individu-individu lain, seperti customer, mitra bisnis dan elemen-elemen dari individu-individu yang lainnya, maka dari itu keahlian berkomunikasi dan bersosialisasi sangat diperlukan oleh seorang Entrepreneur untuk menjaga integritas dalam mengembangkan usahanya.

8. Berkomitmen
Seorang Entrepreneur dalam mengembangkan usahanya pastinya memiliki rencana-rencana, visi, dan harapan tinggi yang mana merupakan tujuan hidupnya. Maka dari itu seorang Entrepreneur harus komitmen terhadap apa yang merupakan tujuan hidupnya, agar tetap fokus pada usaha yang dikembangkannya.

9. Mampu Bekerjasama dengan Baik
Selama ini tidak ada seorang Entrepreneur yang sukses tanpa dukungan dari team, karena seorang Entrepreneur selalu yakin bahwa kesuksesannya itu karena dukungan dari team, maka dari itu seorang Entrepreneur haruslah mampu bekerjasama dengan baik.

10. Mampu Memimpin dengan Baik
Seorang Entrepreneur harus memiliki jiwa Leadership yang baik, dengan memiliki jiwa Leadership yang baik, itu akan memberikan dampak yang baik bagi usaha yang dijalankannya, serta elemen-elemen yang ada di dalamnya.

Cara menjadi Pemimpin

Selalu Optimis
Untuk menjadi seorang pemimpin tanamkan dulu sikap optimis dalam diri, karena seorang pemimpin nantinya akan menjalankan visi dan misinya untuk perkembangan perusahaan atau organisasinya.

Miliki Target
Seorang pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang mampu menjalankan visi dan misinya sesuai dengan Target yang telah ditentukan. Penentuan Target ini juga dapat meningkatkan semangat untuk meraih apa yang diinginkan. Oleh karena itu jika ingin menjadi seorang pemimpin maka milikilah Target, agar segala hal-hal yang ingin dicapai menjadi terstruktur dengan baik dan berjalan lancar.

Miliki Rasa Bertanggungjawab
Untuk menjadi seorang pemimpin harus mampu bertanggungjawab terhadap perkembangan perusahaan atau organisasinya, ketika pemimpin tidak mampu bertanggungjawab terhadap segala hal yang terjadi dalam perusahaan atau organisasinya maka perusahaan atau organisasinya akan hancur atau bangkrut.

Jadilah Bijaksana
Untuk menjadi seorang pemimpin haruslah bijaksana, karena seorang pemimpin nanti akan memimpin anggota-anggotanya untuk bekerjasama dalam meraih visi dan misi, maka seorang pemimpin harus  mampu mengorganisasikan kemampuan yang dimilikinya secara terorganisir dan dapat memberikan manfaat untuk anggota-anggotanya atau orang lain tanpa harus merugikannya.

Kembangkan Keahlian
Untuk menjadi seorang pemimpin harus memiliki keahlian yang lebih untuk dapat memimpin. Keahlian itu sendiri didapatkan dari pengalaman-pengalaman yang pernah dilalui dan mengasah keahlian yang dimiliki dengan baik.

Mampu Manajemen Waktu
Untuk menjadi seorang pemimpin penguasaan dalam memanajemen waktu sangat diperlukan, karena ketika nantinya menjadi seorang pemimpin kepentingan atau aktivitas akan semakin bertambah banyak, yang mana ditakutkan akan ada beberapa kepentingan atau aktivitas yang akan terabaikan, jika tidak mampu memanajemen waktu dengan baik.

Mampu mengambil Keputusan
Untuk menjadi seorang pemimpin harus mampu mengambil keputusan dengan cepat dan tepat, karena seorang pemimpin sangatlah berpengaruh terhadap perkembangan perusahaan atau organisasinya.

Gaya Kepemimpinan

Pengertian Gaya Kepemimpinan
Menurut Kartono ( 1982:39 ), Kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi dan mengarahkan tingkah laku bawahan atau orang lain untuk mencapai tujuan organisasi atau kelompok.
Menurut Asmara ( 1985:17 ), Kepemimpinan adalah tingkah laku untuk mempengaruhi orang lain agar mereka memberikan kerjasamanya dalam mencapai tujuan yang menurut pertimbangan mereka adalah perlu dan bermanfaat.
Menurut Achmad Suyuti ( 2001:7 ), Kepemimpinan adalah proses mengarahkan, membimbing dan mempengaruhi pikiran, perasaan, tindakan dan tingkah laku orang lain untuk digerakkan ke arah tujuan tertentu.
Menurut Fandi Tjiptono ( 2001:161 ), Gaya Kepemimpinan adalah suatu cara yang digunakan pemimpin dalam berinteraksi dengan bawahannya.
Menurut Heidjrachman dan S. Husnan ( 2002:224 ), Gaya Kepemimpinan adalah pola tingkah laku yang dirancang untuk mengintegrasikan tujuan organisasi dengan tujuan individu untuk mencapai tujuan tertentu.
Menurut Hersey ( 2004:29 ), Gaya Kepemimpinan adalah pola tingkah laku ( Kata-kata dan tindakan-tindakan ) dari seorang pemimpin yang dirasakan oleh orang lain.

Jadi dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa Gaya Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi dan mengarahkan aktifitas kelompok yang diatur untuk mencapai tujuan tertentu atau tujuan bersama.

Menentukan Gaya Kepemimpinan
Menurut Heidjrachman dan Husnan ( 2002:173 ) seorang pemimpin harus memiliki sifat Perceptive artinya mampu mengamati dan menemukan kenyataan dari suatu lingkungan. Untuk itu seorang pemimpin harus mampu melihat, mengamati, dan memahami keadaan atau situasi tempat kerjanya, dalam artian bagaimana para bawahannya, bagaimana keadaan organisasinya, bagaimana situasi penugasannya, dan juga tentang kemampuan dirinya sendiri. la harus mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Untuk memilih gaya kepemimpinan yang akan digunakan, perlu dipertimbangkan berbagai faktor yang mempengaruhinya. Meskipun banyak faktor yang perlu dipertimbangkan, menurut Heidjrachman dan Husnan ( 2002:173 ) membaginya ke dalam 4 ( Empat ) faktor yaitu :
1) Faktor di Organisasi.
2) Faktor Pimpinan Manajer.
3) Faktor Bawahan.
4) Faktor Situasi Penugasan.

Motivasi, Kepuasan dan Memimpin Karyawan

Peran Psikologis di Perusahaan
Psikologi dalam pengertian umum adalah ilmu yang mempelajari tentang tingkah-laku manusia. Bagi orang awam seringkali Psikologi disebut dengan ilmu jiwa karena berhubungan dengan hal-hal psikologis / kejiwaan.
Dalam perjalanannya sebagai sebuah ilmu, Psikologi telah banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan organisasi atau perusahaan. Peran Psikologi dalam memberikan kontribusi bagi perkembangan akan terlihat apabila setiap individu memiliki pemberdayaan psikologis yang tinggi, karena dengan pemberdayaan psikologi yang tinggi akan memberikan motivasi yang tinggi sehingga berdampak kepada kinerja pekerjaan yang mereka tangani, selain itu akan timbul perasaan positif terhadap pekerjaan tersebut.
Peran Psikologi dalam perusahaan, menurut John Miner dalam bukunya Industrial-Organizational Psychology ( 1992 ), dapat dirumuskan dalam 4 bagian :
1. Terlibat dalam Proses Input
adalah melakukan rekrutmen, seleksi, dan penempatan karyawan.

2. Berfungsi sebagai Mediator dalam hal-hal yang berorientasi pada Produktivitas
melakukan pelatihan dan pengembangan, menciptakan manajemen keamanan kerja dan teknik-teknik pengawasan kinerja, meningkatkan motivasi dan moral kerja karyawan, menentukan sikap-sikap kerja yang baik dan mendorong munculnya kreativitas karyawan.

3. Berfungsi sebagai Mediator dalam hal-hal yang berorientasi pada Pemeliharaan
melakukan hubungan industrial ( pengusaha-buruh-pemerintah ), memastikan komunikasi internal perusahaan berlangsung dengan baik, ikut terlibat secara aktif dalam penentuan gaji pegawai dan bertanggung jawab atas dampak  yang ditimbulkannya, pelayanan berupa bimbingan, konseling dan therapi  bagi karyawan-karyawan yang mengalami masalah-masalah psikologis.

4. Terlibat dalam proses output
melakukan penilaian kinerja, mengukur produktivitas perusahaan, mengevaluasi jabatan dan kinerja karyawan.

Jadi dari peran di atas dapat disimpulkan bahwa Psikologi berperan dalam semua aspek-aspek individual yang berhubungan dengan pekerjaan dan organisasi.

Pentingnya Kepuasan dan Moral
Pengertian kepuasan dalam bekerja merupakan keadaan emosional yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan dimana para karyawan memandang pekerjaannya. Hal ini nampak pada sikap karyawan terhadap pekerjaannya, sikap positif bila puas atau sikap negatif bila tidak puas.
Ketidakpuasan karyawan dapat dinyatakan dalam berbagai cara. Misalnya, berhenti bekerja, karyawan mengeluh, tidak patuh, atau mengelakkan sebagian dari tanggung jawab kerjanya. Sementara kepuasan kerja merupakan salah satu tujuan yang ingin dicapai oleh setiap karyawan di tempat kerjanya. Adanya karyawan yang puas membuat moral kerja, dedikasi, kecintaan, dan kedisiplinan karyawan meningkat. Untuk itu sudah menjadi keharusan bagi perusahaan untuk menciptakan kepuasan kerja para karyawannya.
Jadi kesimpulannya adalah kepuasan dan moral sangat saling berhubungan, karena ketika diri setiap individu tidak merasa puas terhadap hasil kinerjanya di perusahaan, maka akan berdampak pada moral setiap individu tersebut. Baik dan buruknya Moral setiap individu bergantung pada kepuasan yang diperoleh.

Motivasi dalam Lingkungan Kerja
Seorang Manajer harus mampu untuk memotivasi karyawannya secara aktif dan harus dapat mempengaruhi tingkat motivasi karyawannya, jika kinerja perlu diperbaiki, manajer harus turut campur dan membantu menciptakan atmosfer yang mendorong, mendukung, dan mempertahankan  perbaikan.
Motivasi dalam lingkungan kerja sangat berpengaruh terhadap kinerja yang akan dilakukan seorang karyawan untuk melakukan suatu aktivitas kerjanya di suatu perusahaan, ketika motivasi karyawan untuk melakukan suatu aktivitas kerja menurun, ini akan berdampak pada hasil kinerja kerjanya yang menjadi tidak maksimal. Begitu sebaliknya, ketika motivasi karyawan meningkat maka hasil dair aktivitas kerjanya akan maksimal dan baik.
Maka seorang manajer harus aktif memotivasi karyawannya dengan cara yang baik agar tercipta lingkungan kerja yang baik.

Strategi untuk meningkatkan Kepuasan dan Moral Kerja
Untuk strategi meningkatkan kepuasaan dan moral kerja karyawan, perusahaan-perusahaan biasanya mencoba untuk membuat dan mengimplementasikan berbagai jenis program yang dirancang untuk membuat pekerjaan menjadi lebih menarik, sehingga dapat meningkatkan kepuasaan dan moral kerja dari karyawan.
Program-program yang dilakukan oleh perusahaan untuk meningkatkan kepuasan dan moral dari karyawan antara lain :
1. Menaikan upah karyawan.
2. Memberikan kenaikan jabatan kepada karyawan yang berprestasi.
3. Kepastian kerja.
4. Memberikan bonus uang tunai kepada karyawan yang berkinerja baik dalam perusahaan.
5. Memberikan kompensasi kepada karyawan.
6. Menciptakan lingkungan kerja yang harmonis.

Gaya Manajerial dan Kepemimpinan
Menurut DR. Winardi, SE. Kepemimpinan adalah merupakan hubungan dimana seseorang atau pemimpin mempengaruhi orang lain, serta memiliki kemampuan untuk mendayagunakan pengaruh interpersonal melalui alat-alat komunikasi dan bersedia bekerjasama berkaitan dengan tugas yang akan dicapai sesuai dengan keinginan dari pemimpin tersebut.
Gaya kepemimpinan dalam perusahaan merupakan hal penting dalam sebuah era organisasi, pengaruh yang signifikan menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan berpengaruh nyata ( berarti ) terhadap kinerja karyawan.

Jenis dan Macam Gaya Kepemimpinan / Pemimpin antara lain :
1. Pemimpin otokratik
Memusatkan kuasa dan pengambilan keputusan bagi dirinya sendiri, dan menata situasi kerja yang rumit bagi pegawai sehingga mau melakukan apa saja yang diperintahkannya. Kepemimpinan ini pada umumnya negatif, yang berdasarkan atas ancaman dan hukuman. Meskipun demikian, ada juga beberapa manfaatnya antara lain memuingkinkan pengambilan keputusan dengan cepat serta memungkinkan pendayagunaan pegawai yang kurang kompeten.

2. Pemimpin partisipatif
Lebih banyak mendesentralisasikan wewenang yang dimilikinya sehingga keputusan yang diambil tidak bersifat sepihak. Karena keputusan itu timbul dari upaya konsultasi dengan para bawahannya dan keikutsertaan mereka.

3. Pemimpin bebas kendali
Menghindari kuasa dan tanggungawab, kemudian menggantungkan kepada kelompok baik dalam menetapkan tujuan dan menanggulangi masalahnya sendiri. Dalam gaya kepemimpinan ini kelompok melatih dan menyediakan motivasi bagi mereka sendiri. Pada gaya ini sangat memungkinkan berbagai unit organisasi yang berbeda untuk bergerak maju dengan tujuan yang bertentangan dengan yang lainnya, dan ini akan menimbulkan kekacauan. Tetapi bermanfaat dalam situasi dimana pemimpin dapat memberi peluang sepenuhnya kepada kelompok untuk melakukan pilihan mereka sendiri.